SOLO, MettaNEWS – Saking seringnya digunakan dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menganggap typografi adalah hal biasa. Layaknya sega endhog(nasi dan telur) sajian yang sering dinikmati masyarakat, typografi bukanlah hal yang perlu diperhatikan. Sebagai simbol bunyi, sejatinya typografi dapat menjadi karya seni yang layak diperhitungkan.
“Ketika simbol dibunyikan typografi ini bisa menyampaikan pesan, ketika pesan ini disampaikan informasi bisa disampaikan dengan cepat. Nah kemudian typografi ini perlu dimuliakan, kebanyakan pengguna di dunia ini termasuk Indonesia sebagai negara berkembang, huruf ini menjadi biasa.,” ucap Ipung Kurniawan Yunianto, Chief of Event Typefest 2022, saat ditemui MettaNEWS di TBTJ, Rabu (11/5/2022).
Event yang bertujuan untuk memuliakan karya seni khususnya typografi disajikan pada sebuah pewacanaan. Bertajuk Rhetoric of Maxim, lahir dari pepatah keseharian manusia menghadapi situasi kondisi, frekuensi yang berbeda. Sesuai dengan konteks, karya seni dalam Typofest2022 direfleksikan di dalam diri seniman yang memiliki keluh kesah sehari-hari.
“Berkarya itu bisa pakai huruf, huruf itu macam-macam, huruf itu unik, dan huruf di sekitar kita asyik untuk kita eksplor,” tambahnya.
Acara yang dianggap cukup klise oleh Ipung ini menjadi gelaran pertama untuk cek ombak. Masih malu-malu untuk menujukkan karya seni, 208 peserta nyatanya mendapat apresiasi yang cukup baik dari pengunjung. Dapat menjadi inspirasi, pesan yang disampaikan pada tiap karya seni tentunya mendapatkan berbagai respon.
“Walaupun dikatakan tidak memenuhi target, tetapi kami merasa cukup terbayar lunas karena apresiasinya bagus. Kebanyakan yang keluar terinspirasi, walaupun tidak wow. Tetapi mereka mangut-mangut, berkarya pakai huruf itu bisa, senang tahun depan ingin ikut, itu sebuah penghargaan,” terang Ipung.
Direncanakan pada dua tahun mendatang, pihaknya menyebut peserta yang ikut bukan hanya perupa dan desainer. Akan mengundang editor dari surat kabar yang kesehariannya berhubungan dengan typografi, tukang setting pinggir jalan, digital printing itu juga pengguna typografi juga.
“Kami ingin mengundang teman-teman itu yang di luar kampus ayo bareng-bareng memulaikan typografi. Dua tahun lagi, kalau target gede enggak, tetapi kalau gayeng iya, lebih terbuka dan temanya lebih kami sederhanakan dan briefnya bisa terbaca lebih mudah,” ucapnya.
Terlalu berat, tema untuk gelaran selanjutnya akan lebih general agar dapat menampung karya seni lebih banyak.
“Kami briefnya untuk awalan cukup berat, karena harus membaca banyak banget yang kami tuliskan di kuratorial, sehingga teman-teman ada kebingungan untuk menerjemahkan, kedepannya kami mencoba menyederhanakan briefnya lagi,
Yang penting, ada eksplorasi bentuk hurufnya atau mengeksplorasi pesannya, selama ada dua itu lolos,” pungkasnya.








