Wawali Astrid Sebut Wastra Nusantara Bisa Jadi Peluang Ekonomi Kreatif, Generasi Muda Jadi Kunci Pelestarian Budaya

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani menilai wastra Nusantara memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kebanggaan budaya sekaligus peluang ekonomi kreatif. Melalui kreativitas dan pemanfaatan teknologi digital, warisan kain tradisional Indonesia diharapkan semakin dikenal generasi muda hingga menembus pasar internasional.

Hal tersebut disampaikan Astrid saat menghadiri Malam Penobatan Duta Budaya Indonesia 2026 bertema “Nusantara Berwastra” di Bale Pangenggar, Taman Balekambang, Solo, Rabu (21/10/2026).

“Anak muda punya peran besar dalam menjaga sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia. Jangan hanya bangga mengenakan wastra, tetapi juga pahami cerita, filosofi, dan nilai yang ada di baliknya. Manfaatkan kreativitas dan teknologi digital untuk membuat budaya kita semakin dikenal luas,” kata Astrid.

Menurut Astrid, pelestarian budaya harus dikemas secara inovatif agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Generasi muda tidak cukup hanya mengenakan kain tradisional, tetapi juga perlu memahami sejarah, filosofi, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Duta Budaya Indonesia merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan Yayasan Duta Budaya Indonesia untuk mencari generasi muda dari berbagai daerah yang dapat menjadi garda terdepan pelestarian kebudayaan.

Pada 2026, rangkaian kegiatan berlangsung pada 17–22 Oktober, dengan karantina finalis pada 19–21 Oktober sebelum malam penobatan. Mengusung tema “Nusantara Berwastra”, ajang tersebut melibatkan finalis dari berbagai provinsi yang membawa identitas budaya daerah masing-masing.

Selain menjadi panggung untuk menunjukkan kemampuan, kegiatan ini juga menjadi ruang bagi para peserta untuk memperluas wawasan kebudayaan sekaligus memperkenalkan kekayaan wastra Indonesia kepada masyarakat.

Wastra Jadi Identitas Budaya dan Penggerak Ekonomi

Astrid menegaskan, wastra Nusantara bukan sekadar kain tradisional dengan motif dan warna yang menarik. Batik, tenun, songket, lurik, serta berbagai kain khas daerah menyimpan sejarah, filosofi, keterampilan, dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.

Bagi Kota Surakarta, pelestarian wastra memiliki arti penting dalam menjaga identitas daerah. Solo yang dikenal dengan tradisi dan batiknya dinilai mempunyai potensi besar untuk mengembangkan kebudayaan sebagai daya tarik pariwisata sekaligus penggerak ekonomi kreatif.

“Melestarikan budaya bukan berarti kita hanya mempertahankan apa yang sudah ada. Kita harus mampu mengembangkannya tanpa kehilangan nilai aslinya. Di sinilah kreativitas generasi muda dibutuhkan agar warisan budaya tetap hidup dan relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.

Astrid juga menilai media sosial dan platform digital dapat menjadi sarana efektif untuk mengenalkan wastra kepada khalayak yang lebih luas. Konten kreatif tentang proses pembuatan kain, filosofi motif, hingga kisah para perajin dapat menjadi cara menarik untuk mendekatkan budaya tradisional dengan generasi masa kini.

Menurutnya, promosi budaya harus memberikan manfaat nyata bagi para perajin, pelaku seni, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan begitu, pelestarian warisan budaya dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat.

“Ketika kita mempromosikan wastra, kita juga ikut memperkenalkan karya para perajin dan membuka peluang bagi usaha lokal untuk berkembang. Budaya tidak hanya menjadi identitas bangsa, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang perlu kita dorong bersama,” imbuh Astrid.

Duta Budaya sebagai Penghubung Tradisi dan Generasi Muda

Kepada para finalis, Astrid berpesan agar gelar duta budaya tidak sekadar menjadi kebanggaan, tetapi juga menjadi tanggung jawab untuk terus belajar, berkarya, dan memperkenalkan kekayaan Indonesia.

Ia berharap para finalis mampu menjadi penghubung antara tradisi dan generasi muda, sekaligus membawa budaya daerah ke tingkat nasional maupun internasional.

Penyelenggaraan Duta Budaya Indonesia 2026 di Solo diharapkan turut memperkuat jejaring kebudayaan antardaerah serta memperkenalkan potensi budaya dan pariwisata Kota Surakarta.

Kolaborasi antara pemerintah, komunitas budaya, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan generasi muda menjadi salah satu kunci agar warisan budaya Nusantara terus berkembang, tetap memiliki nilai autentik, dan mampu bersaing di tengah dinamika global.