Bukan Sekadar Ajang Kecantikan, Miss Batik 2026 Jadi Panggung Kepemimpinan Perempuan

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mendorong perempuan untuk semakin percaya diri mengambil peran kepemimpinan dan berkontribusi di ruang publik. Menurutnya, keberanian memimpin perlu dimulai dari kemampuan mengenali potensi diri, memahami kelebihan dan kekurangan, serta terus mengembangkan kapasitas pribadi.

Pesan tersebut disampaikan Astrid saat menjadi narasumber Miss Batik Cultural Summit 2026 di Kusuma Sahid Prince Hotel Solo, Rabu (7/10/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Miss Batik Indonesia Culture Festival 2026 yang digelar di Kota Surakarta.

Astrid mengatakan, perempuan perlu membangun kepercayaan diri sebagai modal untuk mengambil peran strategis di berbagai bidang. Proses tersebut dapat dimulai dengan mengenali kemampuan diri sekaligus memahami dasar-dasar kepemimpinan.

“Perempuan itu siap menjadi pemimpin dimulai dari menguatkan diri sendiri, bagaimana bisa mengenal diri lebih baik, tahu kelebihan dan kekurangan, serta memahami dasar-dasar kepemimpinan,” ujar Astrid.

Menurutnya, kepemimpinan tidak selalu berkaitan dengan jabatan formal. Kemampuan berkomunikasi, mengambil keputusan, membangun jejaring, menyampaikan gagasan, hingga berani memanfaatkan kesempatan merupakan bagian penting dari kepemimpinan.

Karena itu, perempuan perlu memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan kompetensi dan terlibat dalam berbagai aktivitas di masyarakat.

“Pada akhirnya perempuan bisa mengisi ruang publik, bukan secara domestik saja,” katanya.

Astrid menambahkan, penguatan kapasitas perempuan harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan, pengalaman, peningkatan kemampuan komunikasi, serta perluasan jejaring. Dengan bekal tersebut, perempuan diharapkan semakin siap mengambil tanggung jawab dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Miss Batik Jadi Ruang Pengembangan Kepemimpinan Perempuan

Pesan pemberdayaan perempuan tersebut sejalan dengan konsep Miss Batik Indonesia 2026 yang dikembangkan tidak sekadar sebagai ajang pageant, tetapi juga sebagai gerakan budaya.

Sebanyak 20 finalis dari 12 provinsi mengikuti rangkaian karantina dan Cultural Summit di Solo. Mereka mendapatkan pembekalan mengenai filosofi batik, budaya Indonesia, public speaking, pengembangan diri, kepemimpinan, hingga pengalaman mengenal langsung ekosistem batik di Kota Solo.

Astrid menilai forum seperti Cultural Summit menjadi ruang penting bagi perempuan muda untuk meningkatkan kapasitas diri sekaligus memperluas wawasan. Para finalis diharapkan tidak hanya mengembangkan kemampuan personal, tetapi juga mampu berperan dalam memperkenalkan dan melestarikan budaya Indonesia.

Menurutnya, perempuan muda memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan, baik melalui kepemimpinan, kegiatan sosial maupun pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya.

Batik Bukan Sekadar Produk Fesyen

Selain membahas kepemimpinan perempuan, Astrid juga menyoroti hubungan antara batik, pemberdayaan perempuan, dan penguatan ekonomi kerakyatan.

Ia mengatakan, batik tidak hanya memiliki nilai estetika sebagai kain atau produk fesyen, tetapi juga menyimpan pengetahuan, keterampilan, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi.

“Batik ini bukan sekadar kain atau produk fesyen, tetapi budaya yang hidup di tengah masyarakat karena di dalamnya terdapat pengetahuan dan keterampilan,” tutur Astrid.

Rangkaian Miss Batik Indonesia 2026 turut menghadirkan Cultural Festival yang mempertemukan budaya, fesyen, seni pertunjukan, komunitas, dan ekonomi kreatif. Sekitar 30 stan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dilibatkan, termasuk pelaku usaha batik dan kuliner lokal.

Keterlibatan UMKM tersebut diharapkan dapat membuka ruang promosi bagi produk lokal sekaligus memperluas peluang ekonomi bagi para pelaku usaha di Solo.

Astrid berharap, pengalaman yang diperoleh para finalis selama mengikuti rangkaian kegiatan di Solo tidak berhenti setelah acara berakhir. Mereka diharapkan membawa pengetahuan tentang batik, budaya, kepemimpinan, dan pengembangan diri ke daerah masing-masing.

“Perempuan harus berani mengenali potensinya, mengembangkan kemampuan, dan berani mengambil ruang untuk memberikan manfaat. Ketika kapasitas perempuan semakin kuat, semakin besar pula kontribusinya bagi masyarakat,” pungkasnya.