Dukung Penataan Parkir Masjid Zayed, DPRD Solo Minta Nasib Jukir Tetap Diperhatikan

oleh
oleh
Masjid Zayed
Suasana parkir Jalan Mentawai Gilingan Solo depan Masjid Raya Sheikh Zayed, Senin (5/6/2023) | MettaNEWS

SOLO, MettaNEWS – Wakil Ketua DPRD Kota Solo, Muhammad Bilal, mendukung langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Solo melakukan penataan kawasan parkir di depan Masjid Raya Sheikh Zayed Solo. Namun, penataan tersebut diharapkan tidak sekadar mensterilkan lokasi, tetapi juga diikuti sistem pengelolaan dan pengawasan yang jelas.

Bilal menilai penataan kawasan parkir menjadi momentum untuk menjaga kelancaran akses dan lalu lintas sekaligus meningkatkan kenyamanan warga maupun wisatawan yang berkunjung ke Masjid Zayed.

Menurutnya, penataan juga penting untuk mengoptimalkan pengawasan terhadap aktivitas parkir, menyusul adanya laporan masyarakat mengenai dugaan pungutan liar (pungli) yang dilakukan oknum juru parkir (jukir).

“Jadi jalur biar steril juga. Dan tentu penataan ini akan lebih mempermudah pengawasan karena kita tahu di beberapa isu di media sosial juga karena parkirnya sudah tidak tertata terus terjadi semacam oknum untuk melakukan pungli. Nah, ini kan juga berdampak Kota Surakarta sendiri, jadi para wisatawan memberikan kesan yang kurang baik,” papar Bilal, Rabu (30/9/2026).

Ia mengatakan, persoalan dugaan pungli di kawasan Masjid Zayed sebelumnya juga telah mendapat perhatian DPRD Solo. Sejumlah anggota Komisi III DPRD Solo disebut beberapa kali melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk menindaklanjuti laporan masyarakat.

Bilal berharap penataan kawasan parkir tidak berhenti pada pemindahan maupun sterilisasi lokasi. Menurutnya, harus ada mekanisme pengelolaan yang transparan, pengawasan yang konsisten, serta kepastian mengenai tarif parkir.

“Sangat mendukung penataan Masjid Zayed sebagai wisata religi. Karena tidak semua daerah punya, kita punya dan harus kita optimalkan. Harapannya selain penataan, pungli tidak ada,” katanya.

Ia menegaskan, penataan juga harus memperhatikan masyarakat yang selama ini bekerja sebagai jukir. Menurutnya, para jukir terdampak perlu diajak berkomunikasi dan diberikan solusi agar kebijakan penataan tidak menimbulkan persoalan baru.

“Penataan ini bukan sekadar menggusur dalam tanda kutip, tapi penataan harus berdampak pada masyarakat maupun wisatawan. Jangan sampai wisatawan kapok untuk datang ke Solo,” tuturnya.

Jukir Terdampak Perlu Diberi Kepastian

Lebih lanjut, Bilal mendorong Pemkot Solo melakukan komunikasi yang baik dengan para jukir maupun warga yang terdampak kebijakan penataan.

Menurutnya, penataan yang baik bukan hanya berkaitan dengan lokasi parkir, tetapi juga harus menjawab sejumlah persoalan teknis, mulai dari pihak yang mengelola, mekanisme pemungutan tarif, besaran tarif, hingga pengawasan.

“Kita percaya penataan yang baik bukan sekadar memindahkan lokasi parkir, tetapi juga memastikan siapa yang mengelola, bagaimana sistemnya, berapa tarifnya, bagaimana pengawasannya, serta bagaimana nasib para jukir yang terdampak,” imbuhnya.

Bilal menilai Masjid Raya Sheikh Zayed memiliki potensi besar sebagai salah satu destinasi wisata religi di Kota Solo. Karena itu, kawasan di sekitarnya perlu ditata agar mampu memberikan pengalaman yang baik bagi masyarakat maupun wisatawan.

Ia mengajak seluruh pihak melihat persoalan parkir di kawasan tersebut secara utuh. Penataan, menurutnya, tetap diperlukan, tetapi pelaksanaannya harus dikawal agar tujuan menciptakan kawasan yang tertib dan nyaman dapat tercapai tanpa mengabaikan masyarakat yang terdampak.

“Mari kita lihat persoalan ini secara utuh. Kita dukung penataannya, kita kawal prosesnya, dan kita pastikan tidak ada masyarakat yang ditinggalkan,” pungkasnya.