Dies Natalis ke-46, UTP Surakarta Angkat Olahraga Tradisional Goara Goara dan Perkuat Kerja Sama Industri

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta merayakan Dies Natalis ke-46 dengan menggelar berbagai kegiatan olahraga di Kampus UTP 1 Balekambang, Kamis (13/8/2026). Selain menjadi ajang mempererat kebersamaan sivitas akademika, momentum tersebut dimanfaatkan UTP untuk memperkuat komitmen melestarikan olahraga tradisional sekaligus memperluas kerja sama dengan dunia industri.

Rangkaian kegiatan Dies Natalis UTP Surakarta diisi dengan jalan sehat, senam bersama, hingga lomba olahraga tradisional Goara-goara. Kegiatan berlangsung meriah dengan melibatkan semua sivitas akademika UTP.

Rektor UTP Surakarta, Prof. Dr. Dra. Winarti, M.Si., mengatakan Goara-goara menjadi salah satu kegiatan yang mendapat perhatian khusus dalam Dies Natalis ke-46. Olahraga tradisional tersebut merupakan hasil kreativitas dosen UTP, Dr. Slamet Santoso.

Winarti berharap Goara-goara tidak hanya dimainkan dalam perayaan Dies Natalis, tetapi dapat menjadi agenda rutin UTP. Menurutnya, pengembangan olahraga tersebut merupakan salah satu bentuk kontribusi kampus dalam melestarikan olahraga tradisional Indonesia.

“Goara-goara saya mohonkan untuk selalu ada ketika Dies Natalis. Salah satu upaya ikut melestarikan olahraga tradisional,” kata Winarti.

Ia menambahkan, Goara-goara sebelumnya telah dilombakan hingga tingkat internasional. Namun, penyelenggaraan lomba secara internal di lingkungan UTP baru dimulai pada Dies Natalis 2026.

Selain fokus pada olahraga tradisional, UTP Surakarta juga terus memperluas jejaring dengan dunia industri. Salah satunya melalui kerja sama dengan PT Eagle High Plantations (EHP), perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan sawit.

Wakil Rektor I UTP Surakarta, Prof. Dr. Ir. Suswadi, M.Si., mengatakan kerja sama dengan EHP tidak sebatas memberikan kesempatan magang kepada mahasiswa. UTP bersama perusahaan tersebut juga menyiapkan skema rekrutmen tenaga kerja bagi mahasiswa maupun lulusan.

“UTP untuk tahun ini kita kerja sama dengan perusahaan sawit, perusahaan internasional namanya Eagle High Plantations atau EHP. Kita sudah mengadakan kerja sama,” ujar Suswadi.

Pada tahap awal, program tersebut menyasar mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik serta Agribisnis dan Agroteknologi Fakultas Pertanian.

Mahasiswa yang lolos seleksi mendapat kesempatan mengikuti program magang selama enam bulan. Selain memperoleh pengalaman kerja, peserta juga mendapatkan fasilitas transportasi pulang-pergi dan honor dari perusahaan.

Setelah menyelesaikan magang, peserta berpeluang diangkat menjadi staf perusahaan.

“Yang telah terseleksi baru difasilitasi magang dan setelah magang itu diangkat menjadi staf,” jelasnya.

Program tersebut mulai menunjukkan hasil. Suswadi menyebut satu mahasiswa Program Studi Agribisnis telah lolos, memperoleh surat keputusan (SK), dan kini menjalani training di perusahaan. Sementara lima peserta lainnya telah lolos seleksi untuk mengikuti program berikutnya.

Kerja sama UTP dan EHP juga mencakup penyiapan tenaga kerja untuk posisi mandor perkebunan. Lulusan SMA atau SMK nantinya akan mengikuti pendidikan dan pelatihan selama enam bulan di UTP sebelum menjalani magang di perusahaan.

Setelah melalui tahapan tersebut, peserta berpeluang langsung diangkat sebagai mandor.

“Jadi nanti lulusan SMK atau SMA kita diklat di UTP selama enam bulan, kemudian magang di perusahaan, langsung diangkat menjadi mandor,” ungkap Suswadi.

Menariknya, UTP juga menyiapkan jalur peningkatan pendidikan bagi para mandor yang telah bekerja. Setelah dua tahun bekerja, mereka dapat mengikuti program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

Melalui program tersebut, para pekerja dapat menempuh kuliah secara daring maksimal dua tahun untuk memperoleh gelar sarjana. Pendidikan lanjutan itu diharapkan membuka peluang peningkatan karier dari mandor menjadi asisten kebun.

“Jadi kuliah online selama maksimal dua tahun mendapatkan kesarjanaan, nanti mempunyai potensi untuk naik jabatan. Jadi dari mandor bisa menjadi asisten kebun kalau sudah sarjana,” terang Suswadi.

Kerja sama dengan EHP ditargetkan berjalan secara berkelanjutan. Rekrutmen berikutnya dijadwalkan berlangsung pada Februari dan akan dilaksanakan setiap tahun.

Khusus program calon mandor, UTP mendapatkan target kuota sekitar 650 orang per tahun. Kuota tersebut disesuaikan dengan kebutuhan regenerasi tenaga kerja perusahaan, terutama untuk menggantikan mandor yang memasuki masa pensiun.

“Kalau mandornya itu ditarget kita diberi kuota 650 per tahun. Karena ada penggantian mandor yang sudah pensiun-pensiun itu,” kata Suswadi.

Menurut Suswadi, kepercayaan EHP kepada UTP salah satunya karena banyak alumni UTP yang telah bekerja di sektor perkebunan sawit. Selain kompetensi teknis, karakter lulusan juga menjadi pertimbangan.

UTP memiliki nilai Tri Ciri yang meliputi kepeloporan, patriotisme, dan kemandirian. Nilai tersebut dinilai menjadi bekal penting bagi mahasiswa sebelum masuk ke dunia kerja.

“Yang dibutuhkan itu karakter dulu. Sehingga nanti kalau masuk ke sana tinggal mengisi aspek teknisnya saja,” pungkasnya.

Melalui Dies Natalis ke-46, UTP Surakarta menunjukkan bahwa perayaan ulang tahun kampus tidak hanya menjadi momentum kebersamaan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat identitas kampus dalam pelestarian olahraga tradisional serta memperluas akses mahasiswa dan lulusan menuju dunia kerja.