SEMARANG, MettaNEWS – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengonsolidasikan 105 investor dan pelaku usaha guna mempercepat masuknya investasi berkualitas ke Jawa Tengah. Langkah tersebut menjadi strategi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk menjaga daya saing daerah di tengah tekanan ekonomi global sekaligus memperluas penciptaan lapangan kerja.
Komitmen itu disampaikan Ahmad Luthfi saat menghadiri Business Dinner bersama investor Penanaman Modal Asing (PMA), Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), pengelola kawasan industri, serta para pemangku kepentingan ekonomi di Hotel Padma Semarang, Selasa (30/6/2026) malam.
“Jawa Tengah harus menjadi kawasan untuk mengembangkan investasi, terutama industri padat karya, tetapi tidak menutup kemungkinan industri padat modal,” kata Luthfi.
Menurutnya, Pemprov Jawa Tengah terus memperkuat iklim investasi melalui penyederhanaan perizinan, kepastian hukum, jaminan keamanan, pembangunan infrastruktur, hingga penyediaan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Penguatan kualitas tenaga kerja dilakukan melalui balai latihan kerja, pendidikan vokasi, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi agar lulusan memiliki kompetensi yang dibutuhkan dunia usaha.
Upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Pada triwulan I 2026, realisasi investasi di Jawa Tengah mencapai Rp23,02 triliun atau 23,23 persen dari target investasi tahun 2026 sebesar Rp99,09 triliun.
Realisasi tersebut terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp12,98 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp10,04 triliun. Nilai investasi itu tersebar dalam 24.957 proyek dan berhasil menyerap sekitar 92 ribu tenaga kerja.
Capaian tersebut melanjutkan tren positif sepanjang 2025. Tahun lalu, realisasi investasi di Jawa Tengah mencapai Rp110,64 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 418.138 orang.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan investasi, Pemprov Jawa Tengah juga menyiapkan pengembangan 12 kawasan industri baru yang tersebar di Kabupaten Rembang, Demak, Kendal, Batang, Brebes, Cilacap, Banyumas, Kebumen, Semarang, Boyolali, Grobogan, serta Kota Semarang.
Selain itu, pemerintah terus memperkuat infrastruktur logistik melalui pengembangan pelabuhan dan dry port guna meningkatkan efisiensi distribusi barang dan mendukung aktivitas industri di Jawa Tengah.
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Luthfi juga mengajak para investor memanfaatkan layanan Bank Jateng sebagai bagian dari ekosistem investasi daerah. Menurutnya, penggunaan bank milik pemerintah daerah akan memperkuat perputaran ekonomi karena kepemilikan saham Bank Jateng sebagian besar dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah serta pemerintah kabupaten dan kota.
“Kami menggandeng Bank Jateng karena merupakan bank milik pemerintah daerah. Kalau investasi menggunakan bank daerah, akan tumbuh ekonomi baru dan sirkulasi keuangan baru di wilayah kita,” ujarnya.
Direktur Utama Bank Jateng Bambang Widyatmoko menegaskan pihaknya siap menjadi mitra strategis bagi para investor melalui layanan pembiayaan investasi, pembiayaan modal kerja, hingga berbagai layanan transaksi perbankan.
Menurut Bambang, Bank Jateng juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan pelaku usaha untuk memperkuat iklim investasi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah secara berkelanjutan.








