SOLO, MettaNEWS — Warga RW 007 Kelurahan Purwosari, Kecamatan Laweyan, Solo, meluncurkan Program Bersama Pilah Sampah, Lingkungan Aman Nyaman (BerSalaman) EcoGenRe, Jumat (19/6/2026).
Program tersebut menjadi gerakan pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat yang melibatkan anak muda, keluarga, hingga kader lingkungan untuk mengurangi volume sampah rumah tangga yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo.
Program BerSalaman hadir dengan konsep sederhana namun berkelanjutan, yakni mengajak warga memilah sampah sejak dari rumah menjadi tiga jenis, yaitu organik, anorganik, dan residu. Gerakan ini digerakkan oleh kader muda bernama Eco Rangers yang terdiri atas unsur Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), Karang Taruna, serta Forum Anak.
Peluncuran Rumah BerSalaman ditandai dengan pemotongan pita, pemberian pakan perdana kepada maggot di Pojok Hijau, hingga sosialisasi pengolahan sampah organik kepada ibu-ibu anggota Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Laweyan Isnan Wihartanto, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo, perwakilan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Kota Solo, pengurus PKK, Karang Taruna, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Founder Program BerSalaman EcoGenRe, Muhammad Salman Al Farisi, menjelaskan program tersebut lahir dari gagasannya saat mengikuti ajang Duta Genre Kota Solo 2025.
Program itu kemudian direalisasikan di tingkat RW sebagai upaya membangun kapasitas lingkungan ekologis sekaligus pemberdayaan remaja dan keluarga.
“Saya merealisasikan program dengan pengembangan kapasitas lingkungan ekologis dan juga lingkungan remaja di tingkat ranah keluarga atau di RW terlebih dahulu. Nah, kami ada Pojok Hijau yang ini meliputi ada rumah maggot dan juga tempat bank sampah,” terang Salman.
Warga RW 007 berhasil menyulap lahan terbengkalai menjadi Rumah BerSalaman yang dilengkapi fasilitas budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) serta tempat pengelolaan sampah anorganik atau bank sampah.
Dalam program tersebut, warga diajak menjalankan pola “Pilah Jadi Tiga”. Langkah pertama dimulai dari dapur dengan memisahkan sampah organik, anorganik, dan residu. Selanjutnya warga diminta menggunakan wadah berbeda dengan penanda warna merah untuk organik, putih untuk anorganik, dan hitam untuk residu. Sampah kemudian disetorkan sesuai jadwal yang ditentukan tanpa dicampur kembali.
Bagi warga lanjut usia yang kesulitan mengelola sampah secara mandiri, petugas kebersihan kelurahan yang disebut Saberling turut membantu proses pengangkutan dan pengelolaan.
Salman menjelaskan saat ini terdapat 10 boks budidaya maggot yang digunakan untuk mengurai sampah organik warga. Selain itu, terdapat pojok tukar sampah yang menjadi tabungan rintisan untuk sampah anorganik terpilah seperti botol plastik, kaleng, dan kardus.
“Program Bersalaman ini bisa mengelola sampai setengah ton sampah organik per bulannya. Untuk anorganik, kami bisa mengolah juga untuk botol, untuk kaleng, untuk kardus dan lain sebagainya, bermitra dengan pengelola-pengelola daur ulang plastik,” paparnya.
Menurut dia, kemampuan maggot dalam mengurai sampah cukup besar. Satu kilogram maggot mampu mengurai sekitar tiga kilogram sampah organik. Dengan 10 boks budidaya yang dimaksimalkan, pengelolaan sampah bisa mencapai 450 kilogram dalam dua hingga tiga pekan.
Meski demikian, Salman mengakui tantangan utama program tersebut masih terletak pada kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari rumah tangga masing-masing.
“Kami sekarang tinggal meningkatkan kesadaran warga untuk memilah sampah dari rumah. Instalasi sudah ada, tinggal penguatan regulasi dan kebiasaan masyarakat,” katanya.

Camat Laweyan Isnan Wihartanto mengatakan gerakan pilah sampah dari hulu kini menjadi kewajiban seluruh wilayah di Kota Solo. Kecamatan Laweyan terus mendorong masyarakat untuk tidak hanya membuang, tetapi juga mengolah sampah rumah tangga secara mandiri.
“Kalau sampah anorganik kan laku ya, bisa dijual langsung tetapi yang sampah organik ini kan harus diolah. Kami melakukan gerakan-gerakan membuat biopori, teba, dan sebagainya. Nah ini inovasi mengolah sampah dengan maggot,” tutur Isnan.
Isnan menyebut, inovasi pengelolaan sampah di Purwosari dan Karangasem dapat menjadi percontohan bagi wilayah lain di Kecamatan Laweyan. Program serupa diharapkan dapat diterapkan di RW-RW lainnya untuk mengurangi volume sampah menuju TPA Putri Cempo.
“Kecamatan Laweyan memang ditarget mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA Putri Cempo setiap bulan. Data volume sampah dari masing-masing kelurahan selalu dievaluasi,” jelasnya.
Sementara itu, perwakilan DLH Kota Solo, Agung Prihantanto, berharap persoalan sampah dapat menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
“Dengan gerakan ini dapat mengurangi permasalahan sampah sehari-hari dan menjadi gerakan kesadaran bersama,” pungkasnya.










