Atlet Tapak Suci Asal Sorong Tembus Muhammadiyah Games 2026, Tak Gentar Hadapi Keterbatasan

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Semangat juang atlet dari Sorong, Indonesia Timur kembali terlihat dalam ajang The 1st Muhammadiyah Games 2026 yang digelar di UMS..

Salah satunya datang dari atlet Tapak Suci asal Universitas Muhammadiyah Sorong, Nur Rahman, yang rela menempuh perjalanan panjang demi tampil membawa nama kampusnya di cabang olahraga pencak silat.

Nur Rahman datang ke Surakarta bersama dua rekannya, Sanjung Sederhana dan Rizkya Eka Bunga Aldilah Maateka, didampingi pembina mereka, Wahyudi.

Meski harus menempuh perjalanan jauh dari Sorong ke Solo, mereka tetap antusias mengikuti kompetisi nasional tersebut.

Rahman mengaku mulai mengenal Tapak Suci sejak duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Kecintaannya terhadap pencak silat terus tumbuh hingga akhirnya aktif mengikuti berbagai pertandingan saat bersekolah di lingkungan Muhammadiyah.

“Saya mulai ikut Tapak Suci sejak kelas lima SD. Waktu SMP baru masuk sekolah Muhammadiyah dan mulai ikut tanding,” katanya, Sabtu (16/5/2026).

Rahman menyebut, tantangan terbesar yang dihadapi atlet dari Indonesia Timur bukan hanya soal latihan, tetapi juga akses perjalanan menuju lokasi pertandingan yang memakan waktu panjang dan biaya besar.

Ia mengungkapkan, rombongannya baru tiba di Surakarta pada malam hari sebelum pertandingan dimulai. Kondisi itu membuat fisik mereka belum sepenuhnya pulih saat harus menjalani tahapan pertandingan.

“Tantangan terbesar ya perjalanan kita. Sampai sini fisik sudah lemas karena baru tadi malam sampai. Sampai penginapan jam satu malam, pagi langsung timbang. Jadi kita main memang kurang fit,” ungkapnya.

Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat Rahman untuk terus berprestasi. Ia bahkan pernah mengikuti kejuaraan dunia pencak silat di Malang dan mengoleksi sejumlah prestasi di tingkat regional maupun nasional.

“Kalau nasional baru pertama kali juara satu di Makassar Championship. Kalau di provinsi sudah beberapa kali ikut, tapi sering gugur di semifinal. Alhamdulillah kemarin di Pomprov Papua Barat Daya bisa juara satu,” jelasnya.

Rahman juga menyoroti minimnya fasilitas latihan yang masih menjadi tantangan bagi atlet di wilayah timur Indonesia. Menurutnya, sebagian besar perlengkapan latihan harus didatangkan dari Pulau Jawa dengan biaya pengiriman yang sangat tinggi.

“Kalau di sini perlengkapannya lengkap dan dekat. Kalau di sana harus pesan dari Jawa dan biaya kirimnya besar sekali. Matras saja bisa sekitar Rp250 ribu per pieces, belum ongkos kargo yang bisa sampai belasan juta,” katanya.

Tak hanya perlengkapan latihan, biaya transportasi menuju lokasi pertandingan juga menjadi beban tersendiri bagi atlet dari Papua.

“Tiket pesawat kami sekitar Rp4 juta per orang,” tambahnya.

Meski menghadapi banyak keterbatasan, Rahman tetap optimistis atlet-atlet dari Indonesia Timur mampu bersaing dengan peserta dari daerah lain, terutama dalam hal mental dan ketahanan fisik.

“Mungkin kalau teknik kita masih tertinggal dibanding di Jawa. Tapi kalau fisik sama mental, insyaallah kita bisa menang,” tuturnya.

Keikutsertaannya dalam The 1st Muhammadiyah Games 2026 diharapkan dapat menjadi motivasi bagi atlet muda di daerah untuk terus berkembang dan percaya diri membawa nama kampus maupun daerah mereka di level nasional.

“Motivasi terbesar saya ingin juara di sini untuk membanggakan kampus dan teman-teman saya di sana,” pungkasnya.