SOLO, MettaNEWS – Harga buah kelapa santan di pasaran masih tinggi. Di Pasar Legi Solo, satu butir kelapa tembus hingga Rp20.000 untuk harga eceran. Harga ini cenderung lebih rendah dibandingkan saat Lebaran yang mencapai Rp25.000/butir.
Tutik Marini, penjual kelapa asal Mojosongo Solo menyebut harga buah kelapa merangkak naik Rp2.000/butir sejak empat bulan yang lalu. Kini di tempatnya satu buah kelapa dihargai Rp15.000 untuk ukuran besar. Di eceran satu buah kelapa dijual Rp18.000-20.000/butir.
“Naik sejak sebelum puasa, agak melesat sejak bulan Ruwah, kenaikannya Rp2.000 per butir. Kemarin Lebaran sempat Rp20.000, pengecer bisa Rp25.000 diparut, ini sudah turun sedikit, sekarang Rp15.000 itu yang biasa gede,” terangnya saat ditemui Mettanews, Rabu (9/4/2025).
Tutik menyebut kenaikan harga buah kelapa disinyalir oleh langkanya barang di pemasok akibat adanya ekspor ke China.
“Kelapa itu diekspor ke China dibuat bahan kara sama susu, kelapa gede kecil dibeli sama harganya, makanya melambung karena kita saingan sama orang-orang China. Kalau di sini lokal cuma mengandalkan pohonnya, kebunnya, semakin diambil tiap hari kan semakin langka,” ujarnya.
Sebelum langka, Tutik biasa mendapat pasokan 4-5 ribu buah kelapa setiap harinya. Kini ia hanya mampu mendapatkan 1-2 ribu saja dari pemasok di Wates, Kulonprogo dan Banjarnegara.
“Diprediksi sampai Juni sulit kelapa, barangnya nggak ada, buahnya semakin sedikit. Kadang dari Pacitan tapi buahnya nggak terlalu bagus banyak yang tipis, kalau tipis buahnya santannya kurang banyak, paling nggak di daerah Wates. Dulu sering ambil di luar tapi kita saingannya sama eksportir lebih mahal, sana timbangan, kalau lokal per biji, besar kecil beda,” urainya.
Menurut Tutik, sulitnya mendapatkan pasokan buah kelapa diakibatkan adanya system yang berbeda antara pedagang lokal dengan eksportir. Di mana eksportir membeli buah kelapa dengan sistem kiloan, sedangkan pedagang lokal per biji.
“Kita ambilnya per biji, kalau besar kecil gitu dikiloin kita rugi, misal kelapanya gede kita jual ya lebih mahal kan untungnya lebih gede juga. Harga Rp15.000, eceran bisa Rp20.000 kalau diparut bisa Rp18.000 yang paling murah. Saya harga grosir untuk bakul, kalau di tangan kedua bisa Rp 20 ribu, Rp 18 ribu, diparut Rp 10 ribu ya bisa dibuat santan, dicukil bisa Rp9.000,” terang dia.
Tutik telah berdagang buah kelapa sejak 26 tahun lamanya. Kenaikan hargga di tahun ini menurutnya jadi kenaikan tertinggi sepanjang sejarah.
“Sepanjang sejarah ini paling mahal tahun ini, kulakan dari sana Rp 14 juta untuk 1.000 butir, kalau 2.000 butir sudah Rp 28 juta, dikirimnya setiap hari, nggak bisa minta berapa minimal seribu dua ribu,” tukasnya.







