SOLO, Metta NEWS – Menjelang bulan puasa dalam tradisi Jawa dikenal dengan tradisi ruwahan yang biasa juga disebut dengan nama bulan ruwah. Dikutip dari jateng.kemenag.go.id ruwahan berasal dari kata ruh yang dijamakkan menjadi arwah kemudian tradisi ini dikenal dengan ruwahan.
Maksudnya, pada bulan ini mereka yang masih hidup di dunia mengirimkan doa kepada Allah yang Maha Pencipta agar setiap ruh manusia berharap untuk mendapatkan keberkahan yakni dengan memperbanyak amaliah seperti saling mendoakan.
Biasanya tradisi mengirim doa ini dilakukan dengan nyekar atau ziarah mengunjungi makam orang tua, saudara dan kerabat yang sudah meninggal.
Ziarah kubur atau nyekar identik dengan bunga tabur atau kembang setaman. Memasuki bulan ruwah atau ruwahan harga bunga tabur melonjak seiring dengan naiknya permintaan.
Pada bulan ruwah seperti ini menjadi kesempatan pedagang bunga tabur meraup rejeki lebih banyak dari bulan-bulan biasanya.
Salah satu pedagang bunga tabur di Pasar Kembang di jalan Honggowongso Solo, Dwi Joko (48 tahun) memasuki ruwahan harga bunga pasti mengalami kenaikan.
Dwi Joko menjelaskan penjualan bunga tabur biasanya menanjak tajam saat tanggal 15 Ruwah (15 hari sebelum puasa) ke atas.
“Dalam kondisi bulan-bulan biasa di luar bulan ruwah untuk 1 ikat (keranjang besar) harganya sekitar Rp 50 ribu. Tetapi kalau masa ruwah seperti ini bisa sampai Rp 400 ribu sekeranjang,” ungkap Dwi Joko.
Dwi Joko menjelaskan jenis kembang setaman yang paling laku saat ruwah adalah melati dan mawar.
“Yang paling mahal melati dan mawar. Kantil ngga terlalu mahal, ngga terlalu dibutuhkan kalau ruwah ini yang kebutuhannya buat nyekar. Kalau kembang kantil kan buat keperluan-keperluan tertentu,” terangnya.

Pedagang dari daerah Pengging Boyolali ini menuturkan selama ruwah ia bisa menyediakan bunga sebanyak 7 hingga 10 kali dari hari biasanya.
“Kalau bunga saya ambilnya dari Boyolali dan Bandungan. Kalau saya jualan 24 jam dan nginep di sini (emperan) pulang ke Pengging seminggu sekali,” jelas Dwi yang sudah 15 tahun berjualan di lokasi yang sama ini.
Selain ruwah, ia menyebut kebutuhan bunga juga cukup tinggi pada saat Imlek dan Cheng beng (ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah kubur)
Pada hari biasa, Joko mengaku bisa mendapatkan untung bersih sekitar Rp 200 ribu. Namun, pada saat ruwah, ia bisa mendapatkan penghasilan hingga dua sampai tiga kali lipat.
“Kalau pas ruwah selain warga sekitar banyak pembeli dari luar kota, jadi pada mudik untuk nyekar kan sebelum puasa, makanya saya buka 24 jam,” tutupnya.








