ProSolo Gelar Training Personal Branding Tingkatkan Resiliensi Gen Z

oleh
oleh
ProSolo (komunitas public relations Solo) menyelenggarakan training and sharing session personal branding, Kamis (3/10/2024) | MettaNEWS/Puspita

SOLO, MettaNEWS – . Profesi public relations (PR) mewajibkan pribadi yang harus berinteraksi dengan berbagai pihak eksternal maupun internal. Terlebih sebagai PR yang merupakan representasi sebuah instansi. Artinya, di zaman yang serba kolaborasi ini, para PR dituntut mampu bertahan di tengah gempuran tekanan. Namun kondisi saat ini resiliensi generasi Z terhadap dunia kerja di era ini perlu digembleng lebih matang lagi.

Menjawab problem tersebut, ProSolo (komunitas public relations Solo) menyelenggarakan training and sharing session terkait personal branding, Kamis (3/10/2024) di Bengawan Resto Solo Safari. Training dipandu langsung oleh trainer yang berkompeten di bidangnya, Anna Hariyatiningsih. Sebanyak 29 PR dari hotel, mal, dan rumah sakit di Solo Raya ambil bagian dalam kegiatan ini.

“Fenomena ini jadi keprihatinan kami para PR di Solo Raya. Era sekarang ini, kami menghadapi para generasi Z sebagai rekan kerja. Tidak jarang kami mendengar kabar para PR dari generasi Z ini menyerah menghadapi dunia kerja. Padahal posisi PR ini penting bagi sebuah instansi,” beber Koordinator ProSolo, Dhani Wulandari.

Dhani menyebut turn over PR saat ini cukup tinggi. Mayoritas dipicu oleh resiliensi generasi Z yang rendah saat mendapatkan tekanan di dunia kerja. Untuk itu, perlu solusi tepat dan taktis dalam mengantisipasi problem tersebut. Training ini diselenggarakan sebagai salah satu upayanya.

“Memang generasi Z ini butuh treatment khusus. Mereka sangat dekat dengan dunia digital dan media sosial. Itu sangat berpengaruh dalam membentuk mental mereka. Solusinya, perlu pendekatan yang berbeda untuk memberikan input ke mereka. Dengan cara, sering-sering memberikan mereka pelatihan,” ujar Anna Hariyatiningsih.

Mantan pramugari haji Garuda Indonesia ini mengakui mental generasi Z sangat lemah. Bahkan sampai muncul sebutan generasi strawberry. Alias cepat busuk meskipun nampak cantik. Alhasil, generasi ini perlu diberi perawatan ekstra agar bertahan lama.

“Dengan memberikan mereka banyak pelatihan, generasi Z ini akan menerima banyak insight. Generasi mereka ini hanya bisa manut oleh gurunya. Maka dari itu, hadirkan banyak guru untuk mereka,” sambungnya.

Salah seorang member ProSolo, Ferry Chan mengatakan training ini sangat berguna bagi para PR untuk menghadapi timnya yang mayoritas generasi Z. Agar tetap tangguh menghadapi dunia kerja yang dinamis.