Makna Ogoh-ogoh dalam Upacara Macaru Umat Hindu Boyolali

oleh
Ogoh-ogoh di pura pura buana suci saraswati desa Ngaru-aru, Banyudono, Boyolali rabu (02/3/2022) | Foto: Doc MettaNEWS / Kevin Rama

BOYOLALI, MettaNEWS – Umat Hindu di Desa Ngaru-aru, Kecamatan Banyudono, Boyolali kemarin sore (02/3/2022) laksanakan kegiatan macaru atau tawur agung di pura setempat dengan mengarak ogoh-ogoh. Pengertian ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala.

Ogoh-ogoh menyimpan makna tersendiri bagi umat Hindu. Heru Kuncoro selaku Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Desa Ngaru-aru (02/3/2022) mengungkapkan makna ogoh-ogoh tersebut.

“Ogoh-ogoh ini dalam konsep upacara nyepi itu merupakan “saru” lambang sifat atau energi buruk yang ada hubungannya dengan alam semesta, termasuk juga dalam diri manusia sehingga perlu adanya pemusnahan atau perlu adanya yang harus dihilangkan. Salah satunya kalau di acara mecaru itu setelah ogoh-ogoh arakan memutari desa, baru nanti terus dimusnahkannya dengan dibakar, ” Jelasnya

Ogoh-ogoh sebagai personifikasi dari sifat angkara murka atau sifat-sifat yang buruk dilambangkan dengan tubuh besar atau raksasa yang memiliki wajah buruk rupa dan mengerikan, dalam konsep Hindu disebut bhuta kala.

Heru kuncoro juga menambahkan ogoh-ogoh yang dibuat di desa Ngaru-aru ini memiliki tinggi dari dasar sekitar 3.5 meter, dengan berat kira-kira 1 kuintal.

“Pelaksanaan arak-arak ogoh-ogoh itu dilakukan di saat “sandikawan”, kalau orang jawa katakanlah maghrib,” Ujarnya

dari pantauan MettaNEWS di lokasi, setelah Adzan maghrib selesai berkumandang, muda mudi umat Hindu mulai bergotong royong untuk mengangkat ogoh-ogoh tersebut, sekitar 20 orang mengarak ogoh-ogoh dan mengelilingi desa dengan jarak 1km lebih.

Setelah upacara mengarak selesai ogoh-ogoh tersebut mulai di bakar, dan itulah runtutan kegiatan mecaru yang bermakna penghapusan sifat atau energi buruk seperti yang disampaikan oleh Heru Kuncoro.