SOLO, MettaNEWS – Tahlil akbar dan sholawatan Bung Karno di Benteng Vasternburg Solo didatangi ribuan pengunjung dari berbagai daerah, Jumat (24/6/2022) malam. Sejak petang hingga malam hari, suasana semakin ramai lalu lalang warga yang datang untuk ikut bersholawat bareng Habib Syech. Hal ini pun dimanfaatkan dengan baik oleh para pedagang aksesoris dan perlengkapan ibadah seperti peci, sarung, sorban maupun tasbih.
Tak hanya dari Solo, pedagang asal Boyolali dan Karanganyar justru lebih mendominasi. Salah satunya Dariyanto, pedagang asal Karanganyar ini mengaku mendapat informasi adanya pengajian akbar Habib Syech dari paguyuban.
“Tahu acara ini dari paguyuban pedagang jadi mengikuti pengajian-pengajian akbar Habib Syech dan lain-lainnya. Tahu juga acara tahlilan Bung Karno, acara seperti ini menurut saya Solo masih mendingan. Biasanya jualan rutinan ikut Habib Syech dan kyai gede sudah jualan dari 2016,” ucap Dariyanto saat ditemui MettaNEWS di area PKL depan Benteng Vasternburg Solo, Jumat (24/6/2022).
Baginya yang sering berjualan di acara yang sama sejak 2016 menyebut gelaran di Solo mampu mendatangkan pundi-pundi rupiah yang lebih baik usai pandemi melanda selama dua tahun. Baru berjualan dalam beberapa jam, ia mendapat penghasilan Rp 1 juta, itu pun belum terhitung secara total ketika Dariyanto menutup lapaknya di penghujung acara yang diperkirakan hingga dini hari.
“Pendapatannya Rp 1 juta lebih, ini yang dijual peci sarung sajadah, sorban harga Rp 10 ribu sampai Rp 150 ribu. Kebanyakan yang dicari di Solo itu sorban sama sarung batik, padahal sarungnya dari Solo,” beber Daryanto sembari tertawa meladeni permintaan pembeli yang terus berdatangan.
Daryanto menyebut pembeli dagangannya berasal dari berbagai usia, khusus untuk sarung batik banyak diburu kalangan anak muda.
“Yang beli rata-rata semua usia ada kalau sarung kebanyakan anak muda batik, motif batik wayang,” ucapnya.
Banyaknya pengunjung yang ia sebut sekira 20 ribu orang ini merupakan pertanda yang baik untuk acara yang sama dapat digelar kembali. Tak lupa, ia yang mengetahui adanya acara tahlilan untuk Presiden RI pertama, Soekarno atau Bung Karno turut berdoa agar apa yang dicita-citakan Bapak Proklamator Indonesia dapat terwujud di masa kini.
“Harapannya acara seperti ini sering diadakan sering sholawatan, ini ramai perkiraan ada 20 ribu orang, doa untuk tahlilan semoga yang dicita-citakan Bung Karno tercapai,” tutupnya.
Tak jauh dari lokasi Daryanto, Sairi pedagang peci asal Gading Solo juga mendapatkan penghasilan hingga ratusan ribu rupiah. Namun cukup berbeda dari Daryanto, Sairi justru mengaku pendapatannya masih sedikit meski sudah menggelar lapak sejak sore hari.
“Jualan peci sejak sore habis maghrib pendapataannya termasuk sepi biasanya ramai. Tapi Alhamdulillah dapat Rp 800-an, biasanya dapat Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta, kalau acara begini,” terang Sairi.
Kali pertama berjualan di acara sholawatan Habib Syech usai pandemi, Sauri mengetahui adanya acara tersebut dari rutinan pengajian yang ia ikuti.
“Ini baru pertama kali jualan di acara seperti ini setelah pandemi, tahu acara ini karena dari rutinan pengajian jadi sudah tahu ada acara pengajian akbar dan tahlilan Bung Karno, sebelumnya sudah diumumkan,” tambahnya.
Sauri biasa jualan di Alun-alun Kidul sejak oagi hari, lalu siangnya ia pindah lokasi ke Masjid Agung Surakarta. Meski baginya pendapatan malam ini tak begitu banyak, Sauri menyebut dagangannya lebih banyak laku di gelaran tahlilan akbar ini.
“Biasanya kalau jualan di tempat itu dapat Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu, lebih banyak kalau acara karena kan central. Ini mau jualan sampai selesai orang-orang pulang,” terangnya.
Harga pecinya bermacam-macam, Sauri menjual per peci mulai dari Rp 5 ribu sampai Rp 35 ribu untuk bahan yang paling mahal, bludru.
“Harapannya mudah-mudahan sering diadakan acara seperti ini tertib aman. Karena kebanyakan yang beli orang-orang yang datang dari segala usai,” tutupnya.
Sementara itu, Jefri pedagang asal Boyolali yang menempati area jalan dekat parkiran Benteng Vasternburg mengaku pendapatannya jauh dari kata lumayan.
“Dapat penghasilan Rp 85 ribu biasanya Rp 1 juta sampai Rp 2 juta. Jualan habis isya, jualan baju kopiah sarung tasbih harga Rp 15 ribu sampai Rp 115 ribu,” ucap Jefri.
Ia yang terakhir jualan di Salatiga di acara yang sama, yakni sholawatan Habib Syech mengaku sepi lantaran adanya dagangan yang sama disetiap acara, Jefri menyebut para pembeli sudah bosan. Namun ia tetap berharap agar pendapatannya dapat naik hingga acara usai.







