Gelar Budaya Babad Kepatihan dari Sendratari hingga Kirab 7 Mata Air

oleh
oleh
Babad Kepatihan
Kirab 7 air dari mata air di Kepatihan Wetan pada gelar budaya Babad Kepatihan, Minggu (8/10/2023) MettaNEWS / Puspita

SOLO, MettaNEWS – Kelurahan Kepatihan Wetan kembali mengadakan Gelar Budaya Babad Kepatihan. Tahun ini Babad Kepatihan mengambil tema Hangleluri Seni Budaya Dimen Tetep Ngrembaka lan Kuncara.

Gelar budaya Babad Kepatihan berlangsung 3 hari pada Jumat 6 Oktober hingga Minggu 8 Oktober 2023. Dengan pentas potensi yang ada di wilayah seperti Forum Anak, PKK, Karang Taruna dan remaja.

Sendratari Babad Kepatihan pada Minggu (8/10/2023) menjadi penutup yang meriah. Hadir Wakil Wali Kota Surakarta Teguh Prakosa beserta para lurah.

Lurah Kepatihan Wetan Sutrisno menjelaskan arti tema tersebut bahwa Kelurahan Kepatihan Wetan dibawah Pemerintah Kota Surakarta harus bisa melestarikan seni dan budaya.

“Ini merupakan kegiatan babad budaya kepatihan yang berlangsung setiap tahun di Kelurahan Kepatihan Wetan.  Sempat terhenti 3 tahun kemarin karena pandemi,” jelas Sutrisno usai kirab di jalan Pamedan area Kejaksaan Surakarta, Minggu (8/10/2023).

Usai sendratari babad kepatihan, kirab berbagai gunungan seperti gunungan buah, jajanan anak-anak dan kue bakpia menjadi rebutan warga yang menonton.

Ada yang menarik pada kirab kali ini. Sebanyak 7 kendil berisi air dari 7 sumber ikut kirab.

“Ini yang pertama di Kelurahan Kepatihan Wetan. Kepatihan Wetan mempunyai sejarah sendiri. Ada 7 sumur di Kepatihan yang merupakan sumber asli sini. Sehingga bisa kami tampilkan sebagai kekayaan intelektual kita. Tujuh mata air ini ada namanya masing-masing. Diantaranya mata air kesehatan, kesucian, kemuliaan dan lainnya,” ujarnya.

Sutrisno menyampaikan sejarah Kepatihan Wetan melewati tiga masa. Yakni masa lampau, kini dan yang akan datang.

“Seperti tema nya dari emas kemudian akan selalu menjadi emas, apapun dalam kondisinya,”

Wawali Teguh menambahkan, Pemkot Surakarta mengapresiasi gelar budaya kelurahan Kepatihan Wetan.

“Potensi budaya kelurahan ini nantinya akan meningkatkan ekonomi warga juga,” jelasnya.

Teguh menyampaikan potensi budaya seperti ini bisa tampil setiap Sabtu san Minggu di halaman Balaikota. Sehingga masyarakat luas bisa melihat potensi masing-masing kelurahan.