Batik Kalikajar Wonosobo Mendunia, Pesanan Tembus Jepang hingga Hong Kong Berkat Pemberdayaan Perempuan

oleh
oleh

WONOSOBO, MettaNEWS – Batik Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, terus berkembang bukan hanya sebagai produk ekonomi kreatif, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan perempuan melalui usaha berbasis keluarga.

Komunitas Batik Kalikajar mendukung program Kapulaga (Kelompok Usaha Berbasis Keluarga) yang diluncurkan Ketua TP PKK Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, di kawasan Wisata Jalisu (Jalan Lingkar Sumbing), Desa Butuh Kidul, Kecamatan Kalikajar, Selasa (8/9/2026).

Program tersebut menjadi salah satu upaya mendorong perempuan agar memiliki keterampilan sekaligus peluang mendapatkan penghasilan tanpa harus meninggalkan aktivitasnya di lingkungan keluarga.

Ketua Komunitas Batik Kalikajar, Aksana Rizky Amalia, mengatakan perempuan dari berbagai kelompok usia memiliki kesempatan yang sama untuk bergabung dan mengembangkan keterampilan membatik.

“Tidak ada batasan usia. Baik yang baru lulus SMA maupun ibu-ibu, asalkan memiliki minat dan tekad untuk memajukan ekonomi kreatif di Kalikajar,” kata Rizky saat ditemui di stan pameran peluncuran Kapulaga.

Bisa Membatik dari Rumah

Pemberdayaan dilakukan melalui pelatihan membatik, mulai dari menggambar pola hingga proses pewarnaan.

Menariknya, sebagian tahapan produksi dapat dikerjakan di rumah. Pola tersebut membuat perempuan tetap bisa menjalankan aktivitas sebagai ibu rumah tangga sembari memperoleh tambahan penghasilan.

“Jadi mereka bisa mencari uang, tetapi tetap bisa menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga dan melayani keluarga dengan penuh kasih sayang,” ujarnya.

Meski pengerjaan dapat dilakukan dari rumah, kualitas produksi tetap dikontrol komunitas. Para anggota terlebih dahulu mendapatkan pelatihan sebelum membawa pekerjaan untuk diselesaikan di rumah.

Komunitas kemudian menerapkan target serta sistem penyetoran hasil pekerjaan secara berkala. Dengan sistem tersebut, proses produksi tetap berjalan teratur sekaligus memberikan peluang pendapatan bagi para anggota.

Pesanan Batik Sampai Jepang dan Amerika

Tak hanya memberdayakan perempuan, Batik Kalikajar juga menunjukkan perkembangan pasar yang cukup luas.

Produk batik yang dikembangkan komunitas tersebut telah dipasarkan ke berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Sulawesi hingga Bali. Bahkan, produk Batik Kalikajar telah dipesan konsumen dari sejumlah negara.

“Kalau di Indonesia kita pernah sampai Sumatera, Sulawesi, dan Bali,” kata Rizky.

Untuk pasar mancanegara, Batik Kalikajar telah menjangkau Jepang, Hong Kong, hingga Amerika Serikat.

Salah satu pintu masuk pengenalan produk tersebut adalah melalui berbagai kegiatan promosi dan Festival Balon yang rutin digelar di kawasan Kembaran, Kalikajar, Wonosobo.

Festival tersebut tidak hanya menarik wisatawan lokal. Pengunjung dari berbagai daerah hingga wisatawan mancanegara juga datang dan kemudian tertarik mengunjungi stan Batik Kalikajar.

Dari interaksi di stan pameran itulah, sejumlah pengunjung kemudian tertarik dengan motif batik yang ditawarkan dan melakukan pemesanan.

Satu Pemesan, Satu Motif

Ada hal yang membuat Batik Kalikajar memiliki daya tarik tersendiri. Komunitas menerapkan konsep motif yang dibuat khusus untuk pelanggan.

Artinya, ketika seorang pelanggan memesan motif tertentu, motif tersebut tidak akan dibuat kembali untuk pelanggan lainnya.

“Kalau seseorang sudah memesan motif tertentu, misalnya motif kopi atau motif lainnya, kita tidak akan membuatkan motif yang sama untuk orang lain,” jelas Rizky.

Konsep tersebut membuat setiap kain batik memiliki karakter dan identitas tersendiri. Pemilik tidak sekadar membeli kain batik, tetapi juga mendapatkan motif yang dirancang sebagai ciri khas personal.

Jalisu Jadi Sentra Usaha Warga

Sementara itu, kawasan Wisata Jalisu di lereng Gunung Sumbing kini mulai berkembang menjadi ruang baru bagi aktivitas ekonomi masyarakat.

Puluhan lapak usaha warga bermunculan di sepanjang kawasan tersebut. Mereka menawarkan berbagai makanan dan minuman bagi wisatawan yang datang menikmati panorama Gunung Sumbing dan Sindoro.

Lapak-lapak usaha tersebut kemudian mendapat branding Kapulaga dari TP PKK Jawa Tengah sebagai sentra kelompok usaha berbasis keluarga.

Jalisu sendiri merupakan jalan lingkar di lereng Sumbing yang dibangun sekitar setahun terakhir. Jalur tersebut melintasi kawasan perbukitan dengan kontur berkelok yang justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Jalur tersebut juga membuka akses yang menghubungkan wilayah Kalikajar dengan Kaliangkrik hingga kawasan Nepal Van Java di Kabupaten Magelang.

Menariknya, pembangunan Jalisu mendapat dukungan besar dari masyarakat. Warga merelakan sebagian tanah kebun mereka untuk pembangunan jalan tersebut tanpa meminta biaya pembebasan lahan.

Kini, akses tersebut tidak hanya menjadi jalur penghubung antarkawasan, tetapi juga membuka peluang baru bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha.

Melalui Kapulaga, pemberdayaan perempuan dan pengembangan usaha warga diharapkan terus tumbuh. Batik Kalikajar menjadi salah satu contoh bahwa kegiatan ekonomi kreatif berbasis keluarga dapat berkembang dari lereng Sumbing hingga menembus pasar internasional.